“Kalau seni dan UMKM bersatu, yang kalah cuma dompet yang gak kuat belanja.”
Klaten – Desa Jimbung mendadak gegap gempita, kayak kampung yang abis dapet kuota internet gratis.
Tiga hari penuh — dari 31 Oktober sampai 2 November 2025 — Jimbung Art Festival resmi bikin geger warga RW 12 dan RW 13 Dukuh Purno Raya.
Bukan festival kaleng-kaleng, lur. Ini campuran antara pameran UMKM, pentas seni, dan semangat anak muda yang levelnya udah mirip BTS lokal — bedanya, ini BTS: Band, Tari, dan Sate. 😜
💃 Seni, UMKM, dan Warung Kopi: Trinitas Kerakyatan yang Membara!
Panggungnya rame, semangatnya juga rame, cuma listriknya kadang agak “mikir” dikit.
Tapi warga gak peduli — ada 38 pelaku UMKM yang jualan dari keripik legend sampai batik kece, dari hasil tani sampai minuman yang rasanya “antara obat dan cinta pertama.”
Anak-anak SD dan SMP tampil all-out, menari, nembang, dan nabuh gamelan dengan wajah serius kayak sedang sidang paripurna.
Sementara itu, karang taruna unjuk gigi lewat band lokal — meski mic-nya kadang lebih kencang daripada suaranya, yang penting semangatnya 100%. 💥
“Tujuannya sederhana,” kata panitia, “biar warga Jimbung gak cuma jadi penonton, tapi juga pemain ekonomi dan seni!”

🧓 Eyang Yati Pesek: Legenda Hidup, Datang Bawa Semangat Hidup!
Sosok istimewa datang dari Yogyakarta: Eyang Yati Pesek, pejuang seni yang udah malang melintang dari panggung karawitan sampai panggung kehidupan.
Beliau gak cuma tampil, tapi juga membakar semangat anak-anak muda biar gak cuma jago joget TikTok, tapi juga bisa nembang dan nari tradisi.
“Seni itu bukan buat tampil, tapi buat hidup,” kata Eyang, dengan senyum lembut yang bikin mikrofon aja pengen sujud hormat. 🙏
👑 Bupati Klaten Turun Gunung, Bawa Dukungan Beneran (Bukan Janji Manis)!
Yang bikin acara makin panas bukan cuacanya, tapi Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., yang dateng langsung ke Purno Raya.
Beliau gak cuma nonton, tapi beneran dukung penuh gerakan rakyat kreatif — dari seni, budaya, sampai UMKM.
“Kalau rakyatnya kreatif, Klaten pasti maju. Kalau rakyatnya bahagia, pemerintah pun ikut keren,” ujarnya sambil senyum tipis penuh makna (dan keringat).
Warga langsung nyahut, “Pak Bupati, boleh dong dukungannya jangan berhenti di tepuk tangan!”
Suasana pun pecah — antara tawa dan tepuk tangan, kayak konser tapi isinya niat baik semua.
🧠 Kolaborasi Aris–Akbar: Duo Purno Raya yang Gak Kalah dari Duo Komedian!
Di balik gegap gempita acara, ada dua tokoh yang patut diangkat topinya:
Bapak Aris Pratomo, sang pencetus ide gila nan mulia, dan Bapak Akbar, panitia pelaksana yang sukses nyulap halaman desa jadi panggung semesta.
Mereka gak cuma ngomong “ayo berbuat”, tapi beneran bikin.
“Kalau tahun ini masih banyak kekurangan, santai aja, tahun depan kita upgrade,” kata Pak Akbar, nada santainya kayak orang baru selesai ngopi tapi penuh tekad baja.
Rencananya, tahun depan festival ini bakal lebih rame, lebih lengkap, dan lebih meriah — bahkan katanya mau undang tokoh-tokoh masyarakat dan instansi biar makin nendang.
☕ Refleksi SemarBagong: Antara Seni, Rakyat, dan Hati yang Nyeni
Kadang, seni bukan sekadar panggung dan tepuk tangan. Ia adalah cara rakyat bicara tanpa mikrofon, cara UMKM bertahan tanpa modal besar, dan cara pemimpin memahami tanpa pidato panjang.
Dan di Jimbung, semua itu menyatu —
di antara aroma gorengan, tawa anak-anak, dan semangat warga yang gak mau kalah sama panas matahari. 🌞
🎤 Penutup (Sambil Ketawa dan Mikir)
“Kalau semua desa kayak Jimbung, mungkin Indonesia gak perlu banyak baliho — cukup banyak panggung seni dan lapak rakyat.”
Sebab di panggung itulah rakyat belajar:
ketika seni dan ekonomi bersatu, harapan gak cuma ditonton — tapi dihidupkan. 💪🎶
Pewarta: Ernawan.k
Editor: Tim Semar Bagong
Biro: Klaten






























Lanjutkan 🔥💪