“Bunga boleh layu, tapi kebahagiaan warga Batu tetap mekar tiap tahun.” 🌼
🚗 BATU —
Batu lagi-lagi bikin iri kota sebelah.
Udah acaranya keren, bunganya asli, dan warganya bahagia sampai lupa pulang.
Perhelatan Batu Art Flower Carnival (BAFC) yang baru aja lewat, masih jadi bahan obrolan favorit — dari warung kopi sampai grup WhatsApp RT.
Bayangin aja, mobil-mobil hias bertabur bunga asli melenggang di jalanan Kota Batu kayak parade cinta alam versi rakyat jelata.
Kalau kota lain masih sibuk pakai bunga plastik, warga Batu mah ogah!
“Plastik cuma buat belanja, bukan buat keindahan,” kata seorang ibu sambil ngelap kamera ponsel yang kena kelopak mawar. 📸
🌸 Bunga Asli, Wangi Asli, Tapi Niat Penonton Lebih Asli Lagi!
Rute parade BAFC penuh sesak oleh penonton.
Tapi bukan cuma nonton — banyak yang ikut tampil, tepatnya dengan tangan usil nyomot bunga dari mobil hias. 🌺
“Kalau mau nyomot bunga di mobil Dinas Pendidikan, dilarang, ada penjaganya,” keluh Yolan, penonton kece yang gagal panen.
Tapi ada juga kontingen yang malah sengaja ngebagi bunga dan sayur ke penonton, kayak kontingen Sidomulyo.
Candra, petani bunga sekaligus dekorator, santai aja:
“Kami biarin aja, biar rakyat senang. Kan semangatnya berbagi, bukan berduka.”
Sambil senyum, dia nyodorin bunga mawar, “Nih, buat kenang-kenangan, bukan buat dijual di Shopee ya.” 🌹
💐 Petani, Pedagang, Sampai Pengusaha Mobil Hias: Semua Kecipratan Rezeki (Dan Serbuk Bunga)
BAFC bukan cuma pesta mata, tapi juga pesta ekonomi.
Petani, pedagang asongan, sampai pengusaha mobil hias ikut dapet untung.
Satryo, pengusaha mobil hias dari Bumiaji, ngakak pas ditanya gimana mobilnya setelah acara:
“Wah, pulang udah kayak mobil habis perang bunga. Tapi gak apa-apa, yang penting rakyat senang.”
Cuma ya itu, katanya, waktu pelaksanaan agak ‘ngadi-ngadi’ — pas musim nikah, bunga jadi mahal kayak harga cinta pertama.
“Mending digelar pas bulan Suro, bunga lagi murah, stok melimpah, dan tukang manten lagi rehat,” katanya bijak, kayak dukun bunga yang hafal penanggalan Jawa.
Untuk bikin mobil hiasnya, Satryo butuh ribuan tangkai bunga, termasuk 400 tangkai bunga Pikok buat atap Pendopo.
“Kalau gak ada Pikok, kayak nasi tanpa sambal. Gak lengkap!” ujarnya sambil senyum bangga — meskipun mobilnya udah rontok separo di garis finish. 😂
🌻 Wali Kota Batu: Bunga, Ekonomi, dan Rakyat — Semua Mekar Bersama!
Di sisi lain, Wali Kota Batu, Nurochman, juga ikut senang bukan main.
Katanya, acara kayak BAFC ini bukan cuma hiburan, tapi mesin penggerak ekonomi dan solidaritas rakyat Batu.
“Penginapan penuh, homestay rame, petani bunga senyum, warga bahagia. Ini namanya ekonomi yang wangi!” ucapnya mantap.
Beliau juga menegaskan kalau acara semacam ini bakal terus didukung penuh,
karena seni, budaya, dan ekonomi lokal kalau disiram gotong royong, pasti tumbuh subur kayak bunga di lereng Panderman. 🌷
☕ Refleksi Ala SemarBagong: Keindahan Itu Bukan Dipamerin, Tapi Dihidupin!
Kadang, keindahan gak butuh baliho gede atau anggaran miliar.
Cukup tangan petani, ide kreatif warga, dan semangat Pemkot yang gak gengsian turun ke lapangan.
BAFC ngajarin satu hal penting:
“Bunga boleh dicomot, tapi rasa cinta pada kota sendiri harus tetap tumbuh.”
🎤 Penutup (Sambil Nyengir di Pinggir Jalan)
Kalau tiap kota punya acara seasyik ini, mungkin rakyat gak bakal ribut soal politik,
karena sibuk rebutan bunga buat ditanam di halaman. 🌺
“Batu memang dingin hawanya, tapi hangat hatinya.
Bunganya aja bisa dipetik, apalagi kebahagiaannya.” 💖
Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Gareng-Petruk
Biro: Jawa Timur





























