Pewarta: Jim
Editor: Tim Semar Bagong
Biro: Nusa Tenggara Barat
Rubrik: Rakyat Jelata — Cerita dari Tanah dan Hati
Semarbagong.com — Di kaki megah Gunung Rinjani, di mana angin masih suka nyapa pohon kelapa dan ayam masih berkokok pakai dialek Sasak, berdirilah satu perempuan luar biasa: Ibu Sainah. Tapi warga lebih kenal beliau dengan nama yang lebih nendang — Inaq Guru Budaya.
Perempuan tangguh ini bukan cuma jaga dapur tetap ngebul, tapi juga jaga api budaya biar nggak padam di tengah zaman yang udah sibuk main TikTok dan ngopi sambil debat politik. 😌☕
🔥 Ketika Budaya Nyaris Padam, Ibu Sainah Nyalain Korek Sendiri
Di Desa Ketapang Raya, Dusun Kedome, Lombok Timur, Ibu Sainah mendirikan Yayasan Astapura Rinjani Ringganis, sebuah tempat belajar yang nggak cuma ngajarin baca tulis, tapi juga ngajarin cara menghormati sejarah tanpa perlu pakai toga dulu.
Bayangin aja — di saat banyak anak kota bingung bedain emoji sedih 😢 sama emoji capek 😩, anak-anak di yayasan ini udah lancar baca aksara Sasak kuno! Hurufnya mirip kode rahasia, tapi maknanya dalam banget — kayak mantan yang masih nyangkut di hati tapi cuma bisa diingat lewat puisi. 😅
✍️ Aksara, Sastra, dan Ajaran Hidup — Tiga Menu Andalan Inaq Guru Budaya
Setiap pagi, halaman yayasan itu ramai kayak pasar budaya.
Anak-anak belajar nulis huruf Sasak, para ibu belajar baca lontar, dan kakek-nenek ikut nimbrung, kadang sambil ngupas kelapa.
Di bawah bimbingan Inaq Sainah, mereka bukan cuma belajar menulis, tapi juga belajar ngerti makna hidup dari tiap tarikan pena.
“Budaya itu bukan pajangan museum. Budaya itu nafas. Kalau nggak dijaga, ya bisa megap-megap,” kata beliau sambil ngaduk teh panas, santai tapi nyelekit. 🍵
Di sana juga ada kelas sastra — bukan sastra galau, tapi sastra leluhur. Naskah-naskah lama dibuka, dibaca, dan dibicarain. Dari situ, anak-anak belajar bahwa jadi orang Sasak itu bukan cuma soal logat, tapi soal laku dan pekerti.
🌊 Dari Limbah Jadi Lukisan, Dari Sampah Jadi Makna
Nah, ini bagian paling “nyeleneh tapi keren”:
Ibu Sainah suka ngumpulin limbah hasil laut — kulit kerang, serpihan bambu, karang mati — terus disulap jadi lukisan bernilai seni tinggi. Tapi… beliau nggak jual satu pun!
Katanya, “Saya kasih cuma buat yang mau janji jaga alam.”
Lho, ini bukan barter ekonomi, tapi barter nurani. 🙌
💃 Senja di Yayasan: Ketika Lansia Ikut Senam dan Budaya Menari Lagi
Begitu sore tiba, suasana berubah jadi kayak festival kecil tanpa tiket masuk.
Para lansia datang bawa semangat, bukan obat herbal. Musik tradisional Sasak mulai main, dan mereka senam bareng — pelan, ritmis, kadang diiringi tawa yang lebih nyaring dari gamelan.
Ibu Sainah berdiri di tengah mereka, bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai pengingat bahwa hidup tak pernah pensiun dari budaya.

🕰️ Menjaga Pusaka, Menjaga Ruh Leluhur
Di rumahnya, ada pusaka berumur ratusan tahun. Bukan koleksi pajangan, tapi amanah.
Setiap pembersihan dilakukan dengan ritual yang hanya beliau tahu tata caranya.
Tidak dipamerkan, tidak dijual, bahkan tidak disombongkan.
Karena kata beliau, “Yang sakral itu bukan bendanya, tapi caramu menghormatinya.”
💡 Kalau Bukan Kita yang Jaga Budaya Ini, Siapa?
Ibu Sainah sering bilang ke murid-muridnya:
“Kalau bukan kita yang jaga budaya ini, siapa? Masa nunggu orang Jakarta datang ngajarin kita jadi orang Sasak?”
Petuah yang sederhana, tapi nusuk sampai ke ubun-ubun.
Sebab memang benar — budaya itu bukan tugas dinas pariwisata saja, tapi tugas hati yang tahu asalnya dari mana.
❤️ Rakyat Jelata, Tapi Jiwanya Sultan Budaya
Ibu Sainah mungkin tak punya gelar akademik tinggi, tapi beliau punya gelar kehormatan dari langit dan bumi: Penjaga Api Budaya Sasak.
Setiap aksara yang diajarkan, setiap lontar yang dibuka, setiap doa yang dilantunkan — semuanya adalah upaya menjaga jati diri bangsa, dari pelosok yang mungkin tak tersorot kamera berita.
🪶 Pesan dari Redaksi Rakyat Jelata:
Kalau kamu pikir perjuangan itu cuma di gedung tinggi dan ruang rapat ber-AC, datanglah ke kaki Rinjani.
Di sana, ada seorang perempuan yang berjuang tanpa bendera, tapi membawa cahaya.
Namanya Ibu Sainah — penjaga api budaya yang nggak pernah padam, bahkan saat dunia sibuk scroll-scroll tanpa arah. 🔥





























