Penulis: Firnas
Editor: Tim Semarbagong.com
Biro: Jawa Timur
Kalau biasanya negara lain sibuk bikin seminar anti-fraud, Singapura malah langsung gaspol: penipu digital siap-siap bokongnya disapa rotan!
Ya, beneran cambuk, bukan cambuk cinta. Ini bukan ancaman, tapi aturan baru yang diumumkan langsung sama Menteri Negara Senior Urusan Dalam Negeri, Sim An, Selasa (4/11/2025).
“Pokoknya kalau nipu lewat HP, telepon, atau internet — siap-siap, minimal enam kali rotan mendarat,” begitu kira-kira semangatnya.
Wah, kalau di Indonesia kayaknya banyak yang langsung buru-buru hapus akun “pinjol ilegal” dan grup “investasi emas syariah 1000% profit dalam 3 hari.” 😅
💥 Pasal Baru: Rotan Dulu, Baru Tobat
Perubahan hukum yang dibawa Sim An ini masuk lewat Pasal 64 dan 420 dalam KUHP Singapura.
Singkatnya: kalau lo nipu orang lewat komunikasi jarak jauh — alias ngibul pakai ponsel, internet, atau WA palsu — hukuman cambuk wajib minimal enam kali, tanpa bisa nego.
Jadi, kalau dulu penipu online cuma takut diblokir, sekarang mereka takut dibelokkan… ke tiang cambuk!
🕵️♂️ Sindikat Pun Kena: Bos Besar, Bos Bokong!
Nggak cuma si penipu receh, tapi juga bandarnya ikut diseret.
Singapura sadar, di balik penipuan “Mama minta pulsa” dan “Hadiah undian Bank Nasional” ada sindikat internasional yang kayak film Fast & Furious — cepat, terorganisir, tapi minus moral.
Nah, makanya pemerintah bikin pasal baru: siapa pun yang join atau rekrut anggota untuk sindikat penipu, siap disabet juga. Minimal enam kali cambuk, maksimal ya… malu seumur hidup.
Kata Sim An, “Kami ingin efek jera.”
Efek jera? Itu sih pasti. Tapi efek duduk juga bakal terasa — perih, Pak! 😂
🔌 Scam Enablers: Tukang Buka Jalan Ikut Kena
Singapura juga nyasar ke para “tukang servis” penipuan: penyedia kartu SIM, akun palsu, atau jasa buka rekening bayangan.
Dulu mereka santai, kayak “ah cuma bantu logistik, bukan pelaku.”
Sekarang? Salah besar. Pemerintah bilang, “Kamu bantu kejahatan, berarti kamu bagian dari kejahatan.”
Alias, siap-siap juga disapa cambuk!
Rotan kali ini bukan buat nyapu, tapi buat nyapu bersih kejahatan digital!
💡 Komentar Rakyat Semarbagong
Kalau kata Semar, “Hukuman keras itu perlu, tapi yang lebih penting: kesadaran keras di kepala, bukan keras di pantat.”
Tapi Bagong nyeletuk cepat, “Lha iya Mar, tapi kadang yang keras di kepala itu justru susah diubah kecuali… kena rotan dulu!” 🤭
🧠 Catatan Bijak ala Warung Kopi
Kita ngakak, tapi mari mikir sejenak — kalau negara sekecil Singapura aja berani tegas demi melindungi rakyatnya dari penipuan digital, kenapa kita yang lebih besar kadang masih drama koordinasi?
Penipu online di sini malah sempat buka kelas motivasi dan konten TikTok sebelum ketangkep.
Mungkin… yang kita butuh bukan cambuk di pantat, tapi cambuk kesadaran di nurani.
Penutup dari Bagong:
“Di dunia maya, banyak yang janji manis, ujungnya getir. Maka waspadalah… karena tidak semua yang muncul di layar itu nyata — kecuali rasa perih setelah dicambuk.”
🌀 Semarbagong.com
Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
Bacaan yang bikin ketawa dulu, mikir kemudian — dan semoga, jadi manusia yang lebih waspada.





























