(Versi Semarbagong.com — Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan)
Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Editor: Tim Semar Bagong
Biro: Klaten
Pagi itu, Kamis 6 November 2025, suasana Desa Kaligayam, Wedi, Klaten, terasa beda. Bukan karena ada dangdutan atau kirab budaya, tapi karena jalan yang dulu kayak bubur ketumpahan truk tanah, sekarang udah kinclong kayak wajah pengantin baru.
Program TMMD Sengkuyung Tahap IV resmi ditutup, dan rakyat pun bersorak—meski sorakannya pelan, karena masih kagum lihat jalan yang mulusnya melebihi kulit bayi TikTokers.
🪖 TNI Bekerja, Rakyat Senyum, Bupati Mangut-mangut
Komandan Kodim 0723 Klaten, Letkol Inf. Slamet Hardianto, berdiri gagah di depan pasukan. Tapi kali ini bukan mau perang, melainkan mau pamit setelah sebulan lebih “menyerbu” desa pakai semen dan cangkul.
“Terima kasih kepada Bupati Klaten yang sudah dukung penuh lewat APBD,” katanya, mantap seperti tukang proyek abis cair dana tahap dua.
Semar nyeletuk:
“Wah, TMMD ini keren, Gon. TNI bukan cuma jagain negara, tapi juga jagain rakyat dari jalan rusak dan jamban bocor.”
Bagong ngangguk sambil nyeruput kopi:
“Iya, Mar. Dulu tentara galak, sekarang malah jadi tukang talud profesional. Ini baru revolusi mental!”
🏗️ Dari Jalan, Talud, Sampai Jamban — Semua Dibangun, Semua Senang
Program TMMD kali ini bukan kaleng-kaleng.
Bayangin aja: jalan sepanjang 495 meter dibangun, gorong-gorong di enam titik, talud gagah, rehab rumah tak layak huni, sampai jambanisasi. Pokoknya, dari urusan kaki sampai urusan belakang, semua dibenahi.
Bagong nyeletuk nakal:
“Berarti rakyat sekarang gak cuma bisa lewat jalan yang enak, tapi juga duduk di jamban yang nyaman!”
Semar langsung nengok, alisnya naik setengah senti:
“Heh, Gon, itu proyek pemerintah, bukan punchline kamu!”
Tapi ya, bener juga sih — pembangunan itu gak melulu soal beton, tapi juga martabat.
👩🌾 Warga Senang: Dari Becek ke Kinclong
Bu Puji, warga Kaligayam, sampai gak percaya.
“Dulu jalannya becek, Mas. Sekarang udah halus. Motor gak selip lagi, sandal juga gak tenggelam,” katanya sambil senyum lebar.
Lalu muncul Mbah Poniyem, 70 tahun, dengan gaya khas rakyat kecil yang bahagia tanpa basa-basi.
“Mas, dulu rumah saya gak punya jalan. Mau keluar harus lewat teras tetangga. Sekarang udah dikasih jalan sama negara. Gusti, matur nuwun!” ujarnya, matanya berkaca-kaca.
Semar menatap langit, Bagong ikut diam sejenak.
“Lha ini, Gon, yang namanya pembangunan. Kalau rakyat udah bisa lewat tanpa numpang emper orang, berarti negara masih punya hati.”

🛣️ Bupati Klaten: Sinergi, Bukan Selfie
Dalam penutupan itu, Bupati Klaten juga hadir. Beliau bilang sinergi antara TNI dan pemerintah harus terus dijaga.
Katanya, “Kita ingin pembangunan cepat dan merata.”
Bagong nyeletuk pelan:
“Asal gak merata di baliho aja, ya, Pak.”
Semar langsung nyengir kecut:
“Ssst, Gon! Tapi ya bener juga. Sinergi itu bukan sekadar bareng difoto, tapi bareng kerja.”
🚶♂️ Jalan Mulus, Ekonomi Lurus
Sekarang jalan di Kaligayam udah kayak catwalk desa. Anak sekolah gak perlu lagi bersepatu dua warna — separo kotor, separo debuan. Warga pun bisa bawa hasil panen pakai motor tanpa takut jatuh.
Ekonomi pun jalan, bukan cuma jalannya yang jadi jalan.
Semar menutup obrolan sore itu sambil tepuk pundak Bagong:
“Lihatlah, Gon. Kalau jalan dibangun dengan tulus, rakyat bisa melangkah dengan tenang.”
Bagong tersenyum:
“Iya, Mar. Dan kalau rakyatnya tenang, negara pun gak perlu banyak alasan.”
🗞️ Semarbagong.com
Media rakyat yang jenaka, nyelekit, tapi bijaksana.
Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.





























