Pewarta: Firnas Muttaqin Biro: Jawa Timur Editor: Tim Semar Bagong
Pasuruan — Gedung Harmonie, Rabu (12/11/2025), berubah jadi lautan manusia. Tapi bukan konser dangdut, melainkan Job Fair Kota Pasuruan — tempat ribuan pencari kerja berbaris rapi sambil menggenggam satu benda sakral: map cokelat berisi CV dan doa panjang.
Sebanyak 1.875 pelamar tumplek blek memperebutkan 583 lowongan dari 30 perusahaan. Dari yang necis pakai kemeja baru sampai yang kausnya sedikit lusuh tapi matanya penuh semangat — semua punya tujuan sama: pengen kerja, bukan nganggur terus disuruh “sabar” sama tetangga.
Acara hasil kolaborasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pasuruan dengan SMK Untung Suropati ini jadi bukti nyata bahwa pemerintah setempat gak cuma pandai bikin spanduk “Pasuruan Kota Madinah”, tapi juga beraksi menekan angka pengangguran.
Stan-stan perusahaan dari berbagai sektor diserbu pelamar. Ada yang wawancara langsung, ada yang cuma numpuk berkas, ada juga yang sibuk latihan senyum di depan kaca jendela.

Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi, yang hadir membuka acara, menyampaikan dengan penuh semangat (dan sedikit nada motivator):
“Tantangan dunia kerja saat ini menuntut solusi konkret. Melalui Job Fair ini, harapannya manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.”
Kalimat yang bikin banyak pelamar angguk-angguk, meski dalam hati sebagian mungkin berdoa, “Semoga rezeki konkret juga segera datang, Pak.”
Sementara Kepala Disnaker, Mahbub Efendi, tampil dengan gaya realistis tapi optimis.
Ia bilang, kegiatan ini bukan cuma formalitas, tapi langkah nyata membangun jembatan antara SDM lokal dan dunia industri.
“Kami ingin memastikan kegiatan ini tepat sasaran, supaya tenaga kerja lokal bisa bersaing dan terserap dengan baik,” ujarnya.
Di luar gedung, suasana juga tak kalah hangat. Beberapa pelamar tampak duduk di tangga, menyeruput kopi sachet sambil saling bertukar cerita:
“Gue ngelamar di pabrik, lu?”
“Di hotel. Tapi katanya harus bisa senyum kayak resepsionis TikTok.”
Obrolan ringan tapi penuh makna — khas rakyat kecil yang selalu bisa menertawakan nasib, bahkan di tengah perjuangan mencari sesuap pekerjaan.

Gareng nyeletuk:
“Hebat, Pasuruan! Yang dicari kerja semangat, yang nyediain kerjaan juga jalan. Tinggal doa biar cocok-cocokan kayak jodoh.”
Petruk menimpali:
“Betul, Gareng. Karena kadang kerja itu bukan soal gaji besar, tapi soal perut tenang dan hati gak tegang.”
Dari Job Fair ini, kita belajar: rakyat itu gak minta banyak. Cukup kesempatan — sisanya mereka kerjakan dengan keringat, tawa, dan doa.
💼 Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
© Semarbagong.com





























