Oleh : Catur Prayitno
Pembuka Menggelitik Pikiran
Di Jakarta, harga tanah naik… tapi harga napas warga bisa turun drastis.
Begitulah kisah keluarga Lenny & Sheila yang lagi ujian sabar tingkat dewa. Rumah keluarga yang sudah dibayar bunganya sampai Rp 40 juta per bulan, total Rp 1,4 miliar—tetap saja terancam pindah tangan lewat lelang. Rumah dibayar mahal, tapi rasa aman ternyata masih angsuran.
Pandemi datang, ekonomi jungkir balik, cicilan seret. Rumah dilelang dua kali, pemenangnya BPR Lestari. Di awal, sempat disodori harapan: harga lelang Rp 3,5 M tapi ayo negosiasi dulu. Keluarga jungkir balik cari solusi, sampai akhirnya ada kesepakatan damai: bayar Rp 1 miliar di Desember 2025. Berat, tapi masih masuk akal—asal waktu diberi nafas.
Eh… baru juga napas setengah dada, 13 November muncul surat “Eksekusi Riil”.
Mediasi baru sebulan lalu kok tiba-tiba “real” begini?
Rakyat jelata pahamnya cuma satu: “Kok cepat kalih?”
Yang bikin perih: keluarga merasa sudah beritikad baik, tapi keputusan berubah mendadak.
Dalam urusan hukum, kata “damai” kadang cuma pendingin suasana… bukan penjamin kenyataan.
Di kota besar, surat legal bisa lebih tajam dari pedang.
Dan setiap rumah yang dilelang… selalu ada keluarga yang ikut “dilepas”.
Celetuk Bagong
“Di Jakarta, rumah memang investasi…
tapi kenapa yang dipanen justru keringat, air mata, dan surat eksekusi?” 🏠💔📄
SemarBagong.com – Media Waras di Negeri yang Kadang Lucu Sendiri.





























