Oleh Tim Media center di Posko Warung Kopi
KABUPATEN BANDUNG BARAT, Semarbagong.com —
Kalau ilmu cuma disimpan di kampus, ia jadi teori. Tapi kalau dibawa turun ke desa, ia bisa jadi solusi. Itulah semangat yang dibawa mahasiswa STAI Al-Musdariyah saat resmi memulai pengabdian di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Rabu (14/01).
Prosesi pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 2 dilakukan langsung oleh Irma Nurlatifah, M.Pd., didampingi dua dosen lainnya, Asmanah, M.Pd. dan Elis Ela Susilawati, M.Pd.. Bukan sekadar seremoni, tapi penanda dimulainya kerja nyata.
Semar tersenyum, Bagong nyeletuk:
👉 Ilmu kalau nggak dipraktikkan, cuma numpang lewat di kepala.
Pemilihan Desa Kertawangi bukan tanpa alasan. Desa ini dikenal sebagai lumbung pertanian unggulan Bandung Barat, sekaligus desa berprestasi yang menyabet predikat Desa Wisata Unggulan. Mandiri pangan, peduli lingkungan, dan kaya potensi—ibarat ladang subur yang siap ditanami gagasan segar.
Dalam arahannya, Irma Nurlatifah menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa adalah jembatan transformasi, bukan menara gading akademik yang berdiri jauh dari realitas warga.
“Kami memproyeksikan kehadiran mahasiswa ini mampu memberikan dampak positif yang konkret. Ini ruang dialektika; mahasiswa membawa inovasi, sekaligus belajar dari kearifan lokal masyarakat Kertawangi yang sudah sangat maju,” ungkapnya.
KKN tahun ini mengusung spirit “Nyantri, Nyakola, Nyunda”—tiga kata sederhana, maknanya dalam:
- Nyantri, menanamkan nilai religius dan akhlakul karimah dalam setiap aktivitas sosial.
- Nyakola, menggerakkan literasi dan pendidikan informal bagi generasi muda desa.
- Nyunda, menjaga marwah budaya lokal dan etika komunikasi khas Jawa Barat.
Bukan cuma jargon, mahasiswa sudah menyiapkan program kerja yang adaptif dan solutif, mulai dari:
- Digitalisasi pemasaran untuk membantu petani lokal menembus pasar lebih luas.
- Eduwisata kreatif lewat workshop penguatan skill remaja desa.
- Modernisasi administrasi desa berbasis teknologi informasi.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh perangkat desa dan tokoh masyarakat. Kolaborasi antara potensi alam Kertawangi dan energi intelektual muda ini diharapkan menjadi contoh pembangunan desa yang cerdas tanpa kehilangan jati diri.
Tokoh muda masyarakat Bandung Barat, Iwan Khozin Darmawan, Ketua DPW Pasukan 08 Kabupaten Bandung Barat sekaligus Ketua Bantuan Hukum (Bahu Prabowo), menilai KKN ini sebagai model pengabdian yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Spirit Nyantri, Nyakola, Nyunda ini sangat tepat. Pembangunan desa tidak boleh tercerabut dari nilai agama, pendidikan, dan budaya. Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui, tapi untuk berjalan bersama masyarakat,” tegas Iwan.
Bagong mengangguk sambil senyum tipis:
👉 Desa kuat bukan karena gedung tinggi, tapi karena warganya tumbuh bersama.
Dengan langkah kecil tapi terarah, mahasiswa STAI Al-Musdariyah membawa harapan besar: Desa Kertawangi tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tapi juga sebagai ruang belajar bersama antara ilmu, budaya, dan kehidupan nyata.
Karena di desa,
yang sederhana sering kali justru paling bermakna.




























