Oleh : Eko Setyo Atmojo
Pembuka Menggelitik Pikiran
Belajar adalah jembatan masa depan. Tapi di SDN 02 Plosowangi, Cawas, Klaten… jembatannya sudah “mbrodol” sebelum masa depan itu lewat. Tiga ruang kelas atapnya ambrol, menyisakan 31 siswa yang harus belajar sambil waspada—jangan-jangan ilmu yang jatuh duluan itu plafon, bukan wawasan.
Bu Retna, sang kepala sekolah pejuang, sudah putus asa tapi tetap waras. Genteng diturunkan biar nggak jatuh tiba-tiba, lalu ruang kepala sekolah dan ruang tamu disulap jadi kelas darurat. Tapi namanya juga bocah, tali pramuka pun masih dilompati seolah itu permainan sirkus. Untung ambrolnya pas anak-anak sudah pulang, kalau pas jam pelajaran… yang kena pelajaran bukan hanya matematika.
Protes? Sudah. Surat permohonan? Sudah tiga kali.
Tanggapan? Baru sebatas “Njih kami cek segera.”
Jawaban khas WhatsApp birokrasi: singkat, sopan, tapi entah kapan masuk agenda.
Bu Retna akhirnya bersuara lantang:
“Jangan yang bagus saja yang diperhatikan, Bu. Sekolah kami juga butuh diselamatkan!”
Di Plosowangi, kurikulum harusnya Merdeka Belajar… bukan Merdeka Mengungsi.
Catatan Semar
“Kalau atap sekolah saja dibiarkan runtuh begitu lama, jangan kaget kalau kepercayaan rakyat ikut jatuh dari genteng.” 🏚️📚
semarbagong.com – Media Waras di Negeri yang Kadang Lucu Sendiri.





























