Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
SERANG — Provinsi Banten lagi-lagi kebagian hajatan besar. Bukan kawinan anak lurah, bukan juga sunatan massal, tapi Muktamar Mathla’ul Anwar (MA) ke-XXI. Acara ini dijadwalkan berlangsung 11–14 April 2026, dengan pusat keramaian di Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang. Stadion siap, karpet merah digelar, dan Banten pun bersolek—minimal nyapu halaman dulu.
Yang bikin tambah ramai, Presiden Prabowo Subianto direncanakan hadir. Kalau presiden datang, biasanya bukan cuma protokol yang tegang, tukang parkir pun ikut serius. Warung kopi di sekitar stadion sudah ancang-ancang: stok kopi ditambah, gorengan jangan sampai dingin.
Muktamar ini tak sendirian. Ia datang beriringan dengan Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Muslimat MA. Jadi, selain bapak-bapak serius berdiskusi, ibu-ibu juga ikut menyumbang energi—energi yang kalau digabung bisa menyaingi listrik PLN setempat.
Ketua Pelaksana Muktamar MA, Asep Rohmatullah, menjelaskan bahwa acara ini bukan sekadar temu kangen sambil salaman dan foto bareng.
“Selain silaturahmi kader, forum ini juga menjadi ajang evaluasi program dan regenerasi kepemimpinan,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).
Bahasanya rapi, maknanya dalam: yang lama dievaluasi, yang muda dipersiapkan, yang ngotot diingatkan supaya legawa. Semar mengangguk pelan, Bagong nyeletuk, “Sing penting ojo rebutan kursi nganti lali tujuan.”
Sekitar 40.000 kader dari berbagai daerah—mulai dari Jakarta, Banten, Lampung, hingga Jawa Barat—diperkirakan bakal tumplek blek di Serang. Bayangkan saja: ribuan manusia, ribuan ide, dan ribuan grup WhatsApp baru yang akan lahir setelah acara.
Selain agenda utama pemilihan ketua umum yang pendaftarannya dibuka awal 2026, Muktamar juga bakal diisi diskusi-diskusi intelektual. Bukan diskusi siapa paling benar, tapi diskusi siapa paling siap membawa MA ke masa depan. Salah satu agenda yang ditunggu adalah peluncuran riset Mathla’ul Anwar tentang satuan pendidikan, yang dijadwalkan rilis pada April 2026.
Di titik ini, hidup memang terasa lucu. Di stadion, orang-orang berkumpul bicara masa depan umat. Di luar stadion, rakyat tetap sibuk mikir harga cabai. Tapi justru di sanalah maknanya: yang besar harus peka, yang kecil harus didengar.
Banten bersiap. MA bersiap. Presiden direncanakan datang.
Rakyat? Seperti biasa—siap ketawa, lalu berpikir.
Karena begitulah hidup:
lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.





























