Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Semar-Bagong
Biro: Jawa Timur
Batu, SemarBagong.com —
Kalau di negeri ini semua pejabat bekerja dengan ikhlas seperti Purbaya dan Amran, mungkin negara gak butuh banyak spanduk bertuliskan “Bersih dari Korupsi”. Cukup pasang tulisan di warung kopi:
“Kalau gak bisa jujur, jangan jadi pejabat. Jual dawet aja, lebih berkah.”
Itu bukan omong kosong. Dua tokoh ini bukan cuma berani ngomong, tapi juga berani kerja — nggak cuma posting di medsos lalu bilang: “Kami berantas korupsi!”
Purbaya dan Amran ini ibarat dua mata tombak yang diasah bukan oleh ambisi, tapi oleh keikhlasan dan etos kerja. Mereka gak nunggu gaji naik buat semangat, tapi semangatnya malah bikin negara hemat triliunan.
☕ Keikhlasan: Bukan Status, tapi Sikap
Keikhlasan itu kayak gula dalam kopi. Kalau kebanyakan, eneg. Kalau kurang, pahit. Tapi kalau pas — bikin melek, bikin kuat kerja.
Begitu juga Purbaya dan Amran. Mereka gak kerja buat pencitraan, gak sibuk ngatur kamera saat turun ke lapangan.
Yang mereka kejar bukan “like” di Instagram, tapi ridha Tuhan dan manfaat untuk rakyat.
Kata orang warung, “Kalau hatimu bersih, dompetmu juga ikut tenang.”
⚖️ Melawan Korupsi Tanpa Drama Politik
Korupsi di negeri ini udah kayak benalu — nempel di mana aja ada kesempatan.
Tapi Purbaya dan Amran datang bukan pakai pentungan, tapi pakai niat baik yang konsisten.
Mereka fokus bukan buat menang debat politik, tapi buat memulihkan kerugian negara.
Sepuluh tahun terakhir, banyak yang katanya perang lawan korupsi, tapi malah sibuk saling lapor dan press conference di hotel bintang lima.
Purbaya dan Amran beda. Mereka lebih milih ngopi sama aparat penegak hukum yang masih punya hati.
Dan hasilnya? Triliunan rupiah balik ke kas negara, tanpa perlu drama tepuk tangan.
💪 Sedekah dan Etos Kerja: Senjata Rahasia
Amran itu disiplin luar biasa — subuh-subuh udah kerja, malam baru pulang.
Purbaya juga tak kalah nyentrik — jago silat, tapi tangan kanannya lebih sering dipakai untuk bersedekah diam-diam.
Katanya, “Sedekah itu kayak antivirus: bikin hati kebal dari niat busuk.”
Keduanya hidup sederhana, tapi pikirannya megah.
Dan di situlah rahasianya: orang yang sibuk berbuat baik, gak sempat mikir jahat.
🧠 Pelajaran Buat Kita Semua
Kadang kita mikir, korupsi itu cuma urusan pejabat. Padahal enggak.
Yang nyelipin nota fiktif di kantor, yang minta “uang rokok” biar urusan lancar, itu juga bagian dari penyakit yang sama — cuma versi kecilnya aja.
Purbaya dan Amran ngajarin, melawan korupsi itu dimulai dari hati dan kebiasaan kecil.
Dari keikhlasan, disiplin, dan semangat berbagi.
Kalau semua rakyat punya etos kerja kayak mereka, KPK bisa libur sebulan penuh buat healing.
🏛️ Pemerintah dan Harapan Baru
Tentu, perjuangan mereka gak bisa jalan sendiri.
Pemerintah perlu kasih perlindungan dan fasilitas yang layak buat para pejuang antikorupsi, bukan malah dicurigai atau dijegal.
Kalau yang jujur terus dipojokkan, ya jangan heran kalau negeri ini makin banyak orang pintar tapi malas jujur.
🌅 Penutup: Semar Ngopi, Bangsa Berdikari
Purbaya dan Amran bukan malaikat, tapi mereka bukti bahwa manusia bisa bekerja dengan nurani.
Kalau semua pejabat bisa ikhlas seperti mereka, rakyat gak perlu lagi minta keadilan — karena keadilan sudah hidup di dada para pemimpinnya.
Kata Semar sambil menyeruput kopi:
“Negara ora butuh wong pinter sing ngapusi,
Tapi butuh wong jujur sing gelem mikir lan ngopii.” ☕





























