Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Semar Bagong
Biro: Jawa Timur
SEMARBAGONG.COM — Ngaku aja deh, kalau denger kata Menteri Keuangan, yang kebayang pasti sosok serius dengan angka-angka yang bikin kepala ngebul. Tapi tunggu dulu, Menkeu kita, Purbaya Yudhi Sadewa, ini beda! Kalau menteri lain sibuk main aman, Purbaya malah ngegas elegan—ngomong blak-blakan soal duit negara kayak orang lagi nyeduh kopi di warung tapi tetep ngena di hati (dan di APBN).
Bayangin aja, di tengah dunia yang kayak roller coaster—harga minyak naik, dolar jungkir balik, geopolitik kayak sinetron bersambung—eh, dia malah tenang kayak guru ekonomi yang baru nemu murid jenius.
Katanya, “Uang daerah banyak nganggur.”
Langsung, BRUK!… kayak petir di siang bolong!
Tapi tunggu, bukan buat nyalahin, lho. Ini kode keras biar Pemda sadar diri. Dana itu bukan buat tidur di bank, tapi buat muter ekonomi rakyat. Duit itu kayak tempe: kalau dibiarkan dingin ya keras, tapi kalau digoreng di minyak kebijakan yang panas… wangi dan renyah hasilnya!
🔍 Menkeu yang Ceplas-Ceplos, tapi Data Driven
Nah, yang bikin Purbaya ini makin beda frekuensi, dia tuh nggak jualan mimpi, tapi jualan realitas.
Bicara berdasarkan data, bukan drama.
Kalau ada yang protes, dia jawab santai tapi nyentil: “Kita harus rasional, bukan emosional.”
Lhoh! Dengerin tuh, para komentator kopi sachet!
Ekonomi negara nggak bisa diatur pakai status medsos atau orasi jalanan, tapi pakai otak dingin dan kalkulator panas!
Dan ini yang bikin rakyat diem-diem kagum — di zaman orang sibuk cari panggung, dia malah sibuk cari solusi.
🧠 Teknokrat Tapi Nggak Kaku, Serius Tapi Nggak Bikin Ngantuk
Purbaya ini model pejabat langka, kayak ayam jago di tengah kumpulan bebek birokrasi.
Dia ngomong tegas tapi nggak nyolot, kerja cepat tapi nggak ngasal.
Beda dari gaya pejabat “tukang tanda tangan laporan bulanan”, dia malah turun tangan ngulik kenapa duit daerah banyak bengong di bank.
Katanya:
“Mindset aparat daerah harus berubah — jangan cuma jagain saldo, tapi gerakkan pembangunan.”
Wah, ini baru tamparan ekonomi dengan rasa cinta tanah air.
Karena kalau duit cuma nganggur, rakyat tetep aja lapar.
Kalau dana cuma diam, jalan tetap berlubang, dan warung tetap sepi pembeli.
🤝 Prabowo dan Purbaya: Duet Macan APBN
Di balik keberanian Purbaya, ada dukungan dari Presiden Prabowo Subianto — yang kayaknya ngerti banget cara memilih “jago data, bukan jago debat”.
Prabowo kasih ruang, Purbaya jalan terus.
Ini kayak duet Batman dan Alfred, bedanya yang ini bukan jaga Gotham, tapi jaga ekonomi Indonesia!
Mereka paham, duit negara itu bukan alat politik, tapi amunisi pembangunan.
Dan selama keduanya kompak, rakyat boleh tenang, investor boleh senyum, dan warung kopi boleh tetap buka sampai malam.
⚙️ Ngendap Bukan Kendala, Tapi Mentalitas!
Yang bikin geli tapi sedih, ternyata masih banyak daerah yang mager dalam eksekusi anggaran.
Katanya, “Takut salah, takut audit.”
Lha, kalau semua takut, kapan rakyatnya maju?
Kata Purbaya, ini bukan soal teknis, tapi soal mental baja versus mental saldo.
“Pemerintah daerah harus belajar berani mengambil keputusan,” katanya.
Dan betul, kadang membangun itu nggak cukup pakai proposal — tapi butuh tekad dan keberanian.
💬 Quote Ngangenin ala Semar Bagong08
“Ekonomi itu bukan soal angka di layar, tapi soal nasi di piring rakyat.” – (kata orang bijak, mungkin Purbaya, mungkin juga tukang nasi goreng di pojokan Kemenkeu).
“Kalau dana nganggur, pembangunan mandek. Kalau pemimpin tidur, rakyat yang ngorok kelaparan.” – Semar Bagong ngedumel bijak.
🌏 Penutup: Antara APBN, Akal Sehat, dan Asa Rakyat
Purbaya bukan cuma Menkeu — dia kayak pemandu wisata ekonomi yang ngajak kita keliling negeri tanpa nyasar di hutan defisit.
Dia ngajarin, jujur dan berani itu bukan slogan, tapi strategi.
Biar rakyat nggak cuma kerja keras, tapi juga merasakan hasilnya.
Jadi, kalau besok denger Purbaya ngomel lagi soal dana nganggur, jangan baper.
Bisa jadi itu cara halus beliau bilang:
“Bangun, bro! Indonesia nggak bakal maju kalau uangnya tidur, dan kita cuma mimpi.”
🟡 SemarBagong08.com — Bikin Ketawa, Bikin Mikir, Bikin Kangen.
Tempat di mana ekonomi jadi obrolan warung, tapi tetap nyentuh akal sehat bangsa.





























