semarbagong.com
Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Semar-Bagong
Biro: Jawa Timur
Di pojokan warung kopi, Semar lagi ngerokok kretek sambil ngaduk kopi hitamnya.
“Gus Bagong,” katanya pelan tapi dalam, “negara ini katanya mau perang lawan mafia impor. Tapi aku kok ngerasa dejavu, ya?”
Bagong, yang dari tadi ngemil tahu isi, nyeletuk tanpa mikir:
“Lha wong setiap mau perang lawan mafia, yang kalah malah rakyat kecil, Mar! Mafia-nya gak pernah bener-bener tumbang, paling pindah kamar, dari hotel ke kantor.”
Ketika Menteri Bicara Tegas, Rakyat Mulai Berharap
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya ngomong lantang. Ia berjanji bakal menumpas habis para mafia impor yang sudah bikin harga barang naik dan perekonomian amburadul. Katanya, identitas mereka sudah dikantongi—yang main di tekstil, baja, dan komoditas besar lainnya.
“Wis wayahe dibersihin!” kata Pak Menteri.
Dan rakyat pun bersorak… pelan-pelan. Soalnya mereka sudah sering dengar janji semacam ini.
“Semoga kali ini bukan cuma janji kayak hujan meteor—bikin heboh tapi cuma sebentar,” kata Semar dengan senyum tipisnya yang penuh makna.
Under Invoicing: Cara Halus Maling Negara
Mafia impor itu bukan maling receh. Mereka maling berjamaah, rapi, wangi parfum mahal, dan jabatannya sering lebih tinggi dari semangat aparat.
Modusnya? Under invoicing — harga barang impor sengaja ditulis lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Selisihnya? Ya masuk ke kantong pribadi, bukan ke kas negara.
Bagong garuk kepala:
“Berarti itu malingnya bukan sembunyi di gudang, Mar, tapi di spreadsheet Excel?”
Semar nyeletuk:
“Bener, Gong. Bedanya, maling Excel ini pakai jas, bukan sarung.”
Rakyat Capek Janji, Pengin Bukti
Kalau rakyat dikasih tahu ada “perang besar lawan mafia”, mereka pengin lihat hasilnya. Jangan cuma jumpa pers dan jargon. Jangan sampai nasibnya kayak Satgas Mafia Tanah, Satgas Mafia Pajak, Satgas Mafia Bola — semua ada gebrakan di awal, tapi akhirnya diam tanpa tanda.
Semar nyeletuk lirih:
“Negara ini pinter bikin satgas, tapi kurang pinter bikin tuntas.”
Transparansi dan Kejelasan, Jangan Cuma Sandiwara
Rakyat berhak tahu siapa mafia itu, sejauh mana jaringannya, dan kapan dibekuk. Tapi tentu dengan cara yang aman, bukan asal bocor di medsos.
Sebab bocoran data bisa jadi “alarm gratis” buat para mafia kabur duluan.
Kata Bagong, “Kalau perang diumumkan, tapi musuhnya dikasih tahu dulu, ya siap-siap perang lawan bayangan.”
Mafia Gak Akan Mati Kalau Pejabatnya Masih Doyan Suap
Ini kata Semar, dengan nada berat:
“Jangan salah, Gong. Mafia impor itu bukan berdiri sendiri. Mereka bisa kuat karena ada pejabat yang nyangoni, ada aparat yang pura-pura buta, ada birokrat yang doyan amplop.”
Jadi kalau mau berantas mafia, bukan cuma tangkap si mafia, tapi sapu juga pejabat nakal yang melindungi mereka.
Kalau cuma tangkap pengusaha kecil sementara yang di atas dilindungi, itu bukan perang, tapi sandiwara.
Gunakan Teknologi, Jangan Gunakan Drama
Semar lanjut ngomong sambil ngeteh:
“Negara ini punya teknologi, punya data, punya sistem. Tapi sayang, sistemnya sering dimatikan biar mafia bisa main.”
Padahal dengan big data dan digitalisasi, kejanggalan harga dan impor bisa terdeteksi dengan cepat.
Bagong nyeletuk:
“Berarti sistemnya bukan error, tapi di-error-kan, Mar?”
“Ha! Pinter kowe, Gong,” jawab Semar sambil ngakak setengah getir.
Regulasi Harus Tegas, Jangan Multitafsir
Aturan pabean, klasifikasi barang, nilai impor—semua harus jelas dan transparan. Kalau aturannya abu-abu, ya jadi tempat main para tikus berdasi.
Hukum gak boleh tebang pilih. Mafia besar harus dihukum besar. Jangan cuma rakyat kecil yang dipajakin, tapi mafia besar dibiarkan piknik.
Rakyat dan Media Harus Jadi Pengawal
Di tengah segala keruwetan, media dan rakyat jadi benteng terakhir.
Media jangan cuma nulis “kata pejabat”, tapi harus berani nulis “fakta lapangan”.
Makanya semarbagong.com hadir:
Bukan buat nyebar sensasi, tapi buat jaga logika.
Buat ngingetin bahwa kebenaran kadang gak bersuara lantang—tapi tetap ada, di warung, di sawah, di obrolan rakyat kecil.
Kesimpulan: Perang Ini Harus Menjadi Revolusi
Kalau Purbaya Yudhi Sadewa bener-bener berani melawan mafia, maka ini bukan sekadar langkah ekonomi, tapi revolusi moral.
Rakyat sudah siap mendukung, asal jangan dikhianati lagi.
Kalau gagal, jangan salahkan rakyat kalau akhirnya mereka gak percaya pada janji-janji pejabat.
Semar menatap jauh ke langit sore, kopi sudah dingin.
“Bagong,” katanya, “perang ini bukan sekadar lawan mafia, tapi lawan kebiasaan pura-pura bersih. Dan itu musuh yang paling susah dikalahkan.”
Bagong tertawa getir,
“Yowes, Mar. Sing penting kita terus ngomong. Biar kebenaran gak kalah sama pencitraan.”
🪶 semarbagong.com – Media Waras, Bahasa Rakyat, Suara Nurani.
Tempat di mana kejujuran diseduh bersama secangkir logika.





























