Pewarta: Eko Windarto
Editor: Tim Gareng-Petruk
Biro: Jawa Timur
GYEONGJU – Di antara gegap gempita panggung dunia yang dipenuhi jas rapi, dasi mengkilap, dan senyum diplomasi yang tertata rapi, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, duduk berhadap-hadapan dengan Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, di sebuah ruangan bernama Agenas Room, Hotel Lahan Select, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).
Tapi jangan salah, ini bukan sekadar temu kangen dua sahabat lintas benua. Ini adalah pertemuan dua pemimpin yang sedang membicarakan masa depan dunia — atau minimal, masa depan perut rakyatnya masing-masing.
Ngobrol Serius, Tapi Santai
Pertemuan ini berlangsung di sela-sela KTT APEC 2025, forum paling bergengsi yang kadang bikin kepala negara lebih sibuk tersenyum daripada makan siang. Tapi kali ini beda — suasananya hangat, bukan cuma karena teh Korea yang disajikan, tapi juga karena dua pemimpin ini kelihatan benar-benar nyambung.
Prabowo, dengan gaya khasnya yang tegas tapi penuh makna, menegaskan bahwa kerja sama Indonesia–Selandia Baru bukan sekadar hitung-hitungan dagang.
“Kerja sama ini adalah jalan membuka pintu-pintu peluang baru, mengukir sejarah yang lebih gemilang bagi anak cucu bangsa kita,”
ujar Prabowo dengan nada yang, kalau ditulis jadi puisi, bisa bikin wartawan meneteskan air mata optimisme.
Luxon: Dagang Itu Jantung, Tapi Jangan Lupa SDM
PM Luxon juga nggak mau kalah diplomatis. Ia memuji hubungan dua negara yang makin mesra dan saling menguntungkan.
“Perdagangan adalah jantung dari hubungan ini,” katanya,
yang langsung disambut senyum Prabowo — mungkin sambil dalam hati mikir, “Asal bukan jantung sapi, ya?”
Nilai perdagangan Indonesia–Selandia Baru yang mencapai USD 1,91 miliar pada 2024 disebutnya akan terus ditingkatkan. Tapi keduanya sepakat, hubungan dua negara tidak boleh hanya soal angka, tapi juga tentang manusia — tentang pendidikan, pertanian, dan tenaga kerja yang tangguh.
Bukan Cuma Bisnis, Tapi Peradaban
Prabowo kembali menekankan pentingnya pembangunan manusia sebagai fondasi bangsa.
“Kapasitas sumber daya manusia Indonesia harus terus dikembangkan agar mampu bersaing di tengah hiruk-pikuk global,”
ujarnya.
Luxon manggut-manggut, tanda setuju. Ia bahkan siap mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia. Kalau perlu, katanya, “ayo tukeran pengalaman, biar sama-sama maju.”

Ngopi Dua Negara
Pertemuan ini ibarat dua sahabat lama yang akhirnya ketemu di warung kopi dunia. Mereka bicara banyak hal — dari iklim, investasi, sampai geopolitik — semua dibungkus dalam semangat kolaborasi dan rasa ingin terus nyambung silaturahmi ekonomi.
APEC 2025 pun jadi saksi:
bahwa diplomasi bukan cuma urusan meja bundar dan pena emas,
tapi tentang dua bangsa yang ingin tumbuh bersama tanpa saling menginjak.
🟡 SemarBagong.com – Portal berita rakyat jenaka, tajam, tapi tetap ngopi bareng pembacanya.





























