Oleh Arfian
Senayan – Dalam sebuah rapat bersama jajaran Pertamina, Anggota DPR RI Komisi VI, Dr. H. Mulyadi, MMA, menyampaikan pesan tegas: Pertamina harus berani melawan mafia migas. Tidak boleh ada lagi ruang, baik dari dalam maupun luar, yang memberi kesempatan bagi para mafia untuk menguasai energi bangsa.
Wejangan Semar: Tenang tapi Menggetarkan
Semar, sang punakawan yang selalu menebar kebijaksanaan, mengibaratkan mafia migas seperti lintah.
“Lintah itu kecil, tapi ngisap darah tanpa henti. Kalau Pertamina mau bersih, harus berani mencabut lintah itu sampai ke akar-akarnya,” kata Semar, lirih namun tajam.
Hal itu sejalan dengan Mulyadi yang menegaskan bahwa Presiden menaruh harapan besar kepada Pertamina. Bukan hanya mengurus minyak dan gas, tetapi juga membuka ruang bagi energi terbarukan agar Indonesia bisa mandiri.
“Pertamina jangan hanya berpikir hari ini. Harus menyiapkan masa depan energi yang bersih, murah, dan bisa dikelola bangsa sendiri,” tegas Mulyadi.
Bagong Menyela: Lucu Tapi Mengena
Dengan wajah polosnya, Bagong menyahut,
“Lha kalau Pertamina sibuk ngurus mafia, kapan sempat mikir energi surya, angin, atau bioenergi? Wong rebutan kursi saja sudah bikin ngos-ngosan. Sudah, singkatnya: mafia keluar, inovasi masuk!”
Meski terdengar lucu, ucapan Bagong mengandung kebenaran: selama mafia migas masih bercokol, wacana energi bersih hanya jadi mimpi di atas kertas.
Roadmap Energi: Menuju Mandiri dan Berdaulat
Mulyadi menekankan perlunya roadmap Pertamina yang jelas. Bukan hanya sekadar angka produksi, tapi juga harus memastikan hubungan mafia migas benar-benar terputus. Tanpa itu, cita-cita menuju Indonesia berdaulat dalam energi akan sulit tercapai.
“Energi adalah kunci kedaulatan bangsa. Kalau energi masih dikendalikan orang luar, bagaimana kita bisa benar-benar merdeka?” ujar Semar penuh makna.
Bagong pun menambahkan sambil terkekeh,
“Isi bensin saja sekarang antre, masa depan energi jangan sampai juga antre. Kalau tidak dipikirkan, nanti cucu-cucu kita hanya tahu minyak dari buku sejarah.”
Penutup: Pesan Punakawan untuk Negeri
Dari rapat di Senayan itu, suara Mulyadi berpadu dengan wejangan Semar dan celoteh Bagong: Indonesia harus mandiri dan berdaulat dalam energi. Mafia migas harus enyah, energi terbarukan harus dibuka selebar-lebarnya, dan Pertamina harus menjadi garda depan menuju kemandirian energi bangsa.
Semar menutup dengan tenang,
“Kedaulatan itu tidak bisa ditawar. Kalau bangsa ini ingin berdiri tegak, energi harus dikelola dengan bersih, jujur, dan tanpa titipan kepentingan.”
Bagong mengangguk sambil terkekeh,
“Pokoknya gampang: mafia minggir, energi bersih masuk. Beres!”





























