Oleh : Eko Setyo Atmojo / Biro : Klaten
Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
Kalau warung kopi di Desa Ngawonggo, Ceper, Klaten, Jumat (19/12) kemarin bisa ngomong, mungkin dia bakal nyeletuk begini:
“Lha iki kok rame-rame, kirain ada diskon kopi. Ternyata Empat Pilar Kebangsaan lagi diseduh.”
Benar saja. Anggota MPR RI, Didik Haryadi, datang berkunjung. Bukan buat kampanye gaya panggung dangdut, tapi buat sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Pesertanya? Generasi muda. Anak-anak yang masih kalau ditanya cita-cita, jawabannya bisa presiden, youtuber, atau… rebahan profesional.
Semar angkat bicara pelan-pelan:
“Empat pilar itu bukan tiang jemuran, Nak. Tapi penyangga negara.”
Bagong langsung nyamber:
“Kalau tiangnya goyah, ya bajunya jatuh. Kalau pilarnya rapuh, ya bangsanya ikut ambruk.”
Didik pun serius tapi santai. Ia menekankan bahwa Gen-Z hari ini adalah pemegang remote control Indonesia 20 tahun ke depan.
“Harus disosialisasikan sejak dini. Anak-anak muda harus diberi rasa tanggung jawab terhadap negara,” katanya.
Bahasanya sederhana, tapi maksudnya dalam. Negara ini nanti bukan diwariskan ke yang paling cerewet di media sosial, tapi ke mereka yang paling siap secara mental dan moral.
Tak berhenti di urusan ideologi, Didik juga nyemplung ke urusan mimpi. Ia bercerita tentang hidupnya yang jauh dari kata “instan”.
Ibunya jualan sapu di pasar.
Dirinya pernah jadi tukang las, ngelas tralis jendela.
Bukan ngelas hubungan toxic, tapi besi sungguhan.
“Jangan pernah menyerah. Bermimpilah besar, mulai dari hal kecil,” ujarnya.
Bagong manggut-manggut:
“Lha aku wae dari cilik mimpi mangan gratis. Eh saiki malah kudu mikir negara.”
Didik ingin anak muda Klaten paham: sukses itu bukan hasil sulap. Bukan simsalabim, tahu-tahu jadi anggota DPR. Tapi hasil kerja keras, tekad, dan konsistensi. Kalau hari ini masih kecil, ya jangan minder. Besok bisa besar asal tidak berhenti jalan.
Bagi yang kepincut dunia politik, Didik juga memberi wejangan.
“Baca buku tokoh-tokoh inspiratif, aktif organisasi, bangun relasi,” katanya.
Semar menimpali bijak:
“Politik itu bukan cuma soal jabatan, tapi soal kesiapan pikiran dan perut.”
Bagong nyeletuk lebih blak-blakan:
“Kalau perut kosong, idealisme bisa goyah.”
Itu sebabnya Didik menegaskan pentingnya kestabilan ekonomi sebelum terjun ke politik.
“Harus bakoh dulu. Kalau tidak, ibarat berdiri miring, jalannya miring, cari rejekinya juga miring,” ujarnya.
Pesannya jelas: politik tanpa fondasi ekonomi yang kuat rawan bikin orang tergoda jalan pintas. Dan kita tahu, jalan pintas seringnya nyasar ke jurang.
Dalam rangkaian kunjungannya, Didik juga menyempatkan diri menghadiri acara feodalan Candi Untoroyono bersama umat Hindu Kabupaten Klaten. Sebuah penegasan bahwa kebhinekaan bukan slogan, tapi praktik sehari-hari.
Akhir acara, warung kopi kembali sepi. Tapi obrolannya masih tertinggal di kepala anak-anak muda. Tentang pilar, mimpi, kerja keras, dan tanggung jawab.

Semar menutup dengan senyum:
“Negara ini besar bukan karena elitnya, tapi karena rakyatnya mau belajar.”
Bagong mengangguk sambil tertawa:
“Iya, asal belajarnya jangan sambil molor.”
Dan begitulah. Di Klaten, Empat Pilar tak hanya disosialisasikan, tapi diceritakan dengan cara yang membumi. Bikin ketawa dulu, baru mikir. Karena hidup memang serius, tapi rakyat tetap butuh senyum untuk menjalaninya.





























