Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Biro: Klaten
Editor: Semar Bagong
Klaten —
Kalau biasanya lapangan desa jadi tempat anak muda nembak gebetan atau bapak-bapak adu gengsi lewat bola plastik, kali ini Lapangan Desa Srebegan malah jadi “lapangan debat terbuka”. Pasalnya, Rabu (12/11/2025) pagi, puluhan warga Desa Srebegan, Kecamatan Ceper, Klaten, datang ke kantor desa bukan buat minta BLT, tapi buat menyuarakan: “Jangan sentuh lapangan kami, Mas!”
Warga datang bawa spanduk, semangat, dan sedikit nada tinggi—maklum, kalau urusan lapangan, itu soal harga diri kampung.
Sumardi, salah satu sesepuh desa yang suaranya khas kayak toa masjid waktu adzan subuh, bilang, “Warga itu setuju gerai KDMP dibangun, lho. Tapi ya jangan di lapangan. Nanti anak-anak mau main bola di mana? Masak di ruang tamu?”
Katanya lagi, lapangan itu dibangun dari keringat warga sendiri, alias hasil “gotong royong plus nyicil semen”. Jadi kalau sekarang mau digusur buat bangunan, ya jelas warga ngerasa dicubit harga dirinya.
“Lapangan itu tempat olahraga, tempat warga kumpul. Kadang buat sepak bola, kadang buat pesta rakyat. Lah kalau dibangun toko, terus kita mau nonton siapa yang tendang siapa?” celetuk warga lain sambil ketawa getir.
Suasana sempat memanas waktu musyawarah di aula kantor desa. Camat, Kapolsek, dan Danramil udah duduk manis, tapi warga malah naik darah gara-gara Kepala Desa dinilai agak “keras lidahnya”. Untung aparat sigap, kalau enggak, bisa-bisa rapat berubah jadi pertandingan adu nada.
Musyawarah pun bubar tanpa hasil. Warga keluar aula sambil geleng-geleng kepala, sebagian masih ngomel, sebagian lagi langsung ngopi di warung depan balai desa—karena memang di Klaten, semua hal serius akhirnya dibahas di warung kopi.
Warga berharap pemerintah desa mau mikir ulang soal lokasi pembangunan Gerai KDMP. “Banyak kok tanah kosong lain, mas. Jangan lapangan, wong itu satu-satunya tempat kami bisa ngakak bareng nonton bola kampung,” ujar warga yang wajahnya masih merah tapi matanya penuh harap.
Sementara itu, Kepala Desa Srebegan berkilah, katanya pembangunan itu hasil Musyawarah Desa sebelumnya. Tapi karena warga sudah protes, bakal ada Musyawarah Desa jilid dua. “Nanti dicari tempat lain yang cocok,” katanya sambil mengelap keringat.

Semar nyeletuk:
“Wong desa itu cuma minta satu: jangan dirampas tempat mereka bahagia.”
Bagong menimpali:
“Lha iya, Semar. Kalau lapangan aja udah dikomersilkan, nanti tawa rakyat mau main di mana?”
Begitulah, dari Srebegan kita belajar: urusan rakyat jangan diputus di meja, tapi dirasakan di hati. Karena kadang, suara paling bijak datang dari orang yang cuma mau main bola sambil ngeteh di pinggir lapangan.
🌀 Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
© Semarbagong.com





























