Pewarta: Ernawan.k
Editor: Tim Gareng-Petruk
Biro: Klaten
KLATEN – Beginilah kalau urusan tanah belum kelar, pelayanan desa pun bisa jadi korban drama. Dua hari penuh, Rabu dan Kamis, Kantor Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten, disegel oleh ahli waris lahan yang merasa pemerintah desa terlalu santai menyelesaikan urusan tukar guling tanah.
Alhasil, plang “Kantor Desa” berubah fungsi jadi “Kantor Tutup Sementara Karena Disegel”. Tapi jangan salah, pelayanan publik tetap jalan — pindah lokasi ke kantor BUMDes. Lha wong warga butuh surat jalan nikah sama pengantar pupuk, masa disuruh nunggu segel buka dulu?

Kepala Desa Kadirejo, Bapak Agus Widodo, mengaku langsung ngalembur alias kerja ekstra buat mediasi.
“Benar, kantor desa sempat disegel dua hari. Tapi Alhamdulillah, setelah mediasi, semua sudah bisa diselesaikan. Hari ini (Jumat, 31/10) kantor dibuka kembali,” jelasnya sambil tersenyum lega — mungkin karena bisa balik ngantor lagi, bukan ngeladeni tanya warga di BUMDes terus.
Dari pihak ahli waris, penyegelan ini adalah puncak dari kesabaran yang sudah mendidih. Mereka menilai proses tukar guling tanah berjalan terlalu lambat, padahal sudah bolak-balik tanya tapi jawabannya mentok di janji.
Menanggapi itu, pihak Dispermasdes Klaten akhirnya buka suara. Katanya, proses tukar guling tanah memang rumit dan panjang.
“Estimasi normalnya sekitar 300 hari,” ujar perwakilan Dispermasdes.
Tapi buru-buru menambahkan, “Tapi itu estimasi maksimal, ya. Kami optimis bisa lebih cepat.”
(Lho, kalau bisa cepat kenapa baru sekarang bilang, Pak? 🤭)

Sekarang segel sudah dibuka, kantor sudah beroperasi, dan harapan warga Kadirejo cuma satu: semoga urusan tukar guling tanah ini nggak jadi sinetron bersambung tiap musim panen.
Karena kalau drama tanah terus berlanjut, bisa-bisa warga malah bikin spanduk baru:
“Tukar Guling Tanah Kadirejo — Coming Soon Season 2.”
Catatan Semarbagong:
Begitulah wajah birokrasi lokal, kadang lebih lambat dari siput pensiun, tapi begitu disegel baru semua gerak cepat. Untung masih ada warga sabar dan kepala desa yang nggak kapok ngopi bareng ahli waris buat nyari jalan tengah.
Semoga ke depan, urusan tukar guling tak lagi butuh segel, cukup butuh niat baik dan kopi panas di meja mediasi. ☕





























