Pewarta: Eko Setyo Atmojo
Editor: Tim Semar Bagong
Biro: Klaten
SEMARBAGONG.COM — KLATEN.
Kalau biasanya orang nyari segar dengan rebahan sambil scroll TikTok, warga Dusun Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten, punya cara lain yang jauh lebih berkelas dan nyentuh: mereka nyegerin hati dan bumi lewat kirab budaya minta berkah air!
Iya, beneran! Bukan kirab politik, bukan pula kirab cinta yang penuh baper — tapi kirab yang isinya dawet, dupa, dan doa!

🥤 Dawet Jalan-Jalan ke Umbul: Antara Ritual dan Rasa Manis Kehidupan
Minggu (2/11), pagi-pagi warga sudah berjejer rapi, bawa wadah berisi dawet — minuman manis yang biasanya nongkrong di gelas, tapi kali ini ikut jalan kaki menuju Umbul Kroman, mata air sakral kebanggaan warga setempat.
Begitu sampai, mbah-mbah sesepuh langsung naik panggung alam, membakar sejen dan dupa, lalu ngobrol dengan alam — kayak konferensi spiritual tanpa moderator.
Dawet pun dituang ke sumber air.
Simbolnya jelas: biar air umbul tetap seger, manis, dan jernih, kayak dawetnya mbah Legiman yang katanya bisa bikin lupa mantan. 😆
🔮 “Dawet Itu Simbol, Nak…” kata Mbah Legiman
Pas Tim Semar Bagong nanya, “Lho, kenapa harus dawet, mbah?”
Mbah Legiman, sambil nyeruput sisa dawet di gayungnya, jawab santai tapi filosofis:
“Mungkin dulu habis jalan jauh, capek, terus minum dawet biar seger. Ya sudah, lama-lama jadi tradisi. Dawet itu seger, biar air umbul juga seger terus.”
Duh, bijaknya mbah satu ini!
Filsafat ekonomi belum tentu ngerti makna “seger” yang disampaikan dengan penuh rasa oleh sesepuh desa.
🪔 Komunikasi dengan Alam: Wi-Fi Spiritual Tanpa Kuota
Jangan salah, saat sesepuh membakar dupa dan sejen, itu bukan ritual horor.
Itu cara mereka “menyapa” bumi, air, dan alam.
Sinyalnya kuat, jaringannya stabil, dan hasilnya? Keharmonisan batin serta debit air yang terus ngalir!
Tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan tiap 10 Jumadil Awal dalam penanggalan Jawa — tanpa sponsor, tanpa iklan, tapi selalu ramai karena yang datang bukan cuma warga, tapi juga rasa syukur.
🍛 Kenduren: Dari Dawet ke Doyan Bareng
Begitu kirab selesai, warga langsung rembugan di meja panjang.
Menu utama: dawet dan kenduren!
Semua kumpul, nggak peduli kaya-miskin, muda-tua, yang penting mangkoknya sama rata.
Suasana hangat, tawa lepas, dan sendok yang nyaris rebutan — inilah definisi ekonomi kerakyatan versi dapur terbuka!
🧢 Kades Mranggen: Dari Tradisi ke Pariwisata
Kepala Desa Sutarman datang, nggak cuma buat makan dawet, tapi juga ngasih kabar gembira:
“Umbul Kroman ini nanti kita kembangkan jadi tempat wisata air tahun 2027. Sekarang kita lengkapi fasilitas sedikit demi sedikit.”
Wah, ini baru keren — dari dawet bisa lahir destinasi wisata.
Kalau nanti beneran jadi, pengunjung bukan cuma bisa berendam, tapi juga belajar cara ngademin hati dengan tradisi.

💬 Quote Nyentil ala Semar Bagong.com
“Kalau air bisa segar, kenapa hati masih keruh?”
“Tradisi itu bukan masa lalu — tapi masa depan yang masih mau kita rawat.”
“Yang dituangkan bukan cuma dawet ke umbul, tapi juga doa agar hidup tetap ngalir tanpa tersumbat ego.”
🌾 Penutup: Air, Dawet, dan Kearifan yang Tak Pernah Kering
Kirab budaya Dusun Kroman bukan cuma soal air, tapi soal rasa syukur dan gotong royong yang ngalir terus, dari generasi ke generasi.
Di tengah dunia yang makin haus perhatian, warga Kroman ngajarin kita bahwa kesejukan sejati itu lahir dari kebersamaan, bukan dari AC atau minuman dalam kemasan.
💧 SemarBagong.com — Lucu iya, nyentil iya, tapi selalu bikin kangen dan nambah iman pada kehidupan.
Tempat di mana tradisi jadi bahan ketawa sekaligus bahan renungan.





























